BAB 2
MANUSIA
HAKIKAT MANUSIA MENURUT ISLAM
Sesungguhnya manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah makhluk paling
sempurna dibandingkan dengan makhluk yang lainya, termasuk diantaranya
Malaikat, Jin, Iblis, Binatang, dan lain-lainnya.
1.
Pengertian manusia menurut para ahli
·
OMAR MOHAMMAD AL-TOUMY AL-SYAIBANY Manusia adalah
mahluk yang paling mulia, manusia adalah mahluk yang berfikir, dan manusia
adalah mahluk yang memiliki 3 dimensi (badan, akal, dan ruh), manusia dalam
pertumbuhannya dipengaruhi faktor keturunan dan lingkungan.
- ERBE SENTANU Manusia adalah mahluk sebaik-baiknya ciptaan-Nya. Bahkan bisa dikatakan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan dengan mahluk yang lain
- PAULA J. C & JANET W. K Manusia adalah mahluk terbuka, bebas memilih makna dalam situasi, mengemban tanggung jawab atas keputusan yang hidup secara kontinu serta turut menyusun pola berhubungan dan unggul multidimensi dengan berbagai kemungkinanan.
2. Pengertian manusia menurut agama islam
Dalam Al-Quran manusia dipanggil dengan beberapa istilah, antara lain
al-insaan, al-naas, al-abd, dan bani adam dan sebagainya. Al-insaan berarti
suka, senang, jinak, ramah, atau makhluk yang sering lupa. Al-naas berarti
manusia (jama’). Al-abd berarti manusia sebagai hamba Allah. Bani adam berarti
anak-anak Adam karena berasal dari keturunan nabi Adam.
Namun dalam Al-Quran dan Al-Sunnah disebutkan bahwa manusia adalah makhluk
yang paling mulia dan memiliki berbagai potensi serta memperoleh petunjuk
kebenaran dalam menjalani kehidupan di dunia dan akhirat.
Allah selaku pencipta alam semesta dan manusia telah memberikan informasi
lewat wahyu Al-quran dan realita faktual yang tampak pada diri manusia.
Informasi itu diberi- Nya melalui ayat-ayat tersebar tidak bertumpuk pada satu
ayat atau satu surat. Hal ini dilakukan-Nya agar manusia berusaha mencari,
meneliti,memikirkan, dan menganalisanya. Tidak menerima mentah demikian saja.
Untuk mampu memutuskannya, diperlukan suatu peneliti Alquran dan sunnah rasul
secara analitis dan mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan penelitian
laboratorium sebagai perbandingan, untuk merumuskan mana yang benar bersumber
dari konsep awal dari Allah dan mana yang telah mendapat pengaruh lingkungan.
Hasil peneliti Alquran yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulannya
bahwa manusia terdiri dari unsur-unsur: jasad, ruh, nafs, qalb, fikr, dan
aqal.
A. Jasad Jasad
merupakan bentuk lahirnya manusia, yang dalam Alquran dinyatakan diciptakan
dari tanah. Penciptaan dari tanah diungkapkan lebih lanjut melalui proses yang
dimulai dari sari pati makanan, disimpan dalam tubuh sampai sebagiannya menjadi
sperma atau ovum (sel telur), yang keluar dari tulang sulbi (laki-laki) dan
tulang depan (saraib) perempuan (a-Thariq: 5-7). Sperma dan ovum bersatu dan
tergantung dalam rahim kandungan seorang ibu (alaqah), kemudian menjadi yang
dililiti daging dan kenpmudian diisi tulang dan dibalut lagi dengan daging.
Setelahnia berumur 9 (sembilan) bulan, ia lahir ke bumi dengan dorongan suatu
kekuatan ruh ibu, menjadikan ia seorang anak manusia.Meskipun wujudnya suatu
jasad yang berasal dari sari pati makanan, nilai-nilai kejiwaan untuk
terbentuknya jasad ini harus diperhatikan. Untuk dapat mewujudkan sperma dan
ovum berkualitas tinggi, baik dari segi materinya maupun nilainya, Alquran
mengharapkan agar umat manusia selalu memakan makanan yang halalan thayyiban
(Surat Al-baqarah: 168, Surat Al-maidah 88, dan surat Al-anfal 69). Halal
bermakna suci dan berkualitas dari segi nilai Allah. Sedangkan kata thayyiban
bermakna bermutu dan berkualitas dari segi materinya.
B. Ruh Ruh
adalah daya (sejenis makhluk/ciptaan) yang ditiupkan Allah kepada janin dalam
kandungan (Surat Al-Hijr 29, Surat As-Sajadah 9, dan surat Shaad 27) ketika
janin berumur 4 bulan 10 hari. Walaupun dalam istilah bahasa dikenal adanya
istilah ruhani, kata ini lebih mengarah pada aspek kejiwaan, yang dalam istilah
Al-Qur’an disebut nafs.
Dalam diri manusia, ruh berfungsi untuk :
1. Membawa dan menerima
wahyu (Surat As-Syuara 193) 2. Menguatkan iman (Surat
Al-Mujadalah 22)
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa manusia pada dasarnya sudah siap
menerima beban perintah-perintah Allah dan sebagai orang yang dibekali dengan
ruh, seharusnya ia elalu meningkatkan keimanannya terhadap Allah. Hal itu
berarti mereka yang tidak ada usaha untuk menganalisa wahyu Allah serta tidak
pula ada usaha untuk menguatkan keimanannya setiap saat berarti dia
mengkhianati ruh yang ada dalam dirinya.
3. Penciptan manusia
hal ini merupakan prinsip pertama dari perkembangan yang dapat dipahami
dalam al-quran, ketika menyatakan bahwa allah maha pencipta. Dengan kata lain,
kehidupan manusia memiliki pola dalam tahapan-tahapan tertentu yang termasuk
tahapan dari perubahan sampai kematian.
(Q.S Nuh 13-14) menyatakan bahwa manusia diciptakan dan ditentukan untuk
perkembangan dalam tahapan. Ayat ini dalam pengertian bahwa manusia diciptakan
dari nutfah (tetesan), kemudian diubah menjadi alaqah (segumpal pendarahan),
kemudian menjadi mudhgah (segumpal darah), dan seterusnya.
(Q.S al-insyqaq 19) dalam pengertian surat ini bahwa manusia tumbuh dari
satu keadaan lain sedemikian rupa, menjadi kanak-kanak setelah bayi, menjadi
tua setelah muda dan kuat.
Dalam surat al’mu’minun ayat 12-15Allah S.W.T berfirman ;
Artinya :
12. Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(berasal) dari tanah.13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).14. Kemudian air mani itu kami
jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging,
dan segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu
kami bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.
Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.15. Kemudian, sesudah itu,
Sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati.(QS. Al- Mu’minuun 23 :
12-15). “
Dari ayat diatas ini diketahui bahwa perkembangan embrio terjadi secara
bertahap. Tahapan-tahapan yang digambarkan dua ayat ini sama persis dengan
temuan ilmu pengetahuan modern. Secara global, pentahapan itu dapat dijelaskan
sebagai berikut :
Sel telur yang belum dibuahi diproduksi oleh organ wanita dan diletakan
pada semacam tabung yang disebut fallopian. Saat bersenggama,
akan ada satu sperma laki-laki yang membuahi sel telur. Sel telur yang dibuahi
akan bergerak ke rahim (uterus)dan menempel pada dinding rahim.
Ketika menempel di dinding rahim, embrio akan berkembang sekitar 3
bulan.Setelah itu, terjadi perkembangan janin selama kurang lebih 6 bulan pada
masa persalinan.
Dalam surat assajadah ayat 7-9 yang
berbunyi:
Artinya : Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan
Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan
keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia
menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia
menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit
sekali bersyukur.(Q.S assajadah 7-9)
Dari ayat al-quran diatas, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa manusia
diciptakan oleh Allah dari tanah. Tanah yang diinjak-injak sehari-hari, tanah
yang dijadikan tempat bercocok tanam,tanah yang kering dan yang basah, tanah
yang dijadikan tempat hidup bagi cacing-cacing, tanah yang dijadikan sebagai
bahan baku membuat genting,bata merah untuk membuat bangunan tempat tinggal,
itulah bahan baku untuk kejadian seorang anak manusian dan tiap-tiap manusia
tanpa terkecuali. Di mulai dari apa yang dimakan sehari-hari, misalnya
nasi,gandum,jagung,sayur-mayur dan buah-buahan hingga daging, segala makanan
yang dikonsumsi manusia itu tumbuh dan mengambil sari makanan dari tanah.
Di dalam segala makanan itu ada segala macam saringan yang ditakdirkan
Allah atas alam. Di dalam makanan itu terdapat protein, karbohidrat, zat besi,
berbagai macam vitamin dan zat-zat lain yang memang sangat diperlukan bagi
keperluan tubuh manusia. Sehingga dengan makanan itu segala kebutuhan tubuh
dapat tercukupi, makanan masuk ke dalam sisitem pencernaan, kemudian makanan
ini menjadi dua bagian, yaitu sari makanan dan sisa makanan yang akhirnya
dibuang oleh tubuh. Sedangkan sari makanan tadi diproses lebih lanjut sehingga
sebagian menjadi darah, hormon, air susu, lemak dan lain-lainnya termasuk air
mani( bagi laki-laki) yang tersimpan dalam tulang sulbi dan ovum ( sel telur)
bagi perempuan yang tersimpan dalam tulang dada. Dan dengan kehendak
Allah maka pria dan wanita pun diciptakan untuk berpasang-pasangan karena dengan
perpaduan gender mereka terciptalah suatu nutfah, sebagaimana dijelaskan oleh
Allah S.W.T dalam firmannya :
dan bahwasanya Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria
dan wanita. dari air mani, apabila dipancarkan (Q.S an-najm ayat 45-46)
Dan kehendak ilahi berpadulah satu dengan zat mani pada perempuan yang
merupakan telur yang sangat kecil. Perpaduan keduanya itulah yang
dinamakan nutfah, kian lama kian besarlah nutfah itu,
dalam empat puluh hari.
Dan dalam masa 40 hari mani yang telah berpadu, berangsur menjadi darah
segumpal. Untuk melihat contoh peralihan berangsur kejadian itu, dapatlah kita
memecahkan telur ayam yang sedang dierami induknya. Tempatnya aman dan
terjamin, panas seimbang dengan dingin, di dalam rahim bunda kandung, itulah
“qararin makin”, tempat yang terjamin dan terpelihara.Lepas 40 hari dalam
bentuk segumpal air mani berpadu dan bertukar rupa menjadi segumpal darah.
Ketika ibu telah hamil setengah bukan. Penggeligaan itu sangat berpengaruh atas
badan si ibu,pendingin,pemarah, berubah-ubah perangai, kadang-kadang tak enak
makan. Dan setelah 40 hari berubah darah, dia berangsur membeku terus hingga
jadi segumpal daging, membeku terus hingga berubah sifatnya menjadi tulang.
Dikelilingi tulang itu masih ada persendian air yang kelaknya menjadi daging
untuk menyelimuti tulang-tulang itu.
Mulanya hanya sekumpulan tulang, tetapi kian hari telah ada bentuk kepala,
kaki dan tangan dan seluruh tulang-tulang dalam badan. Kian lama kian
diselimuti oleh daging. Pada saat itu dianugrahkan kepadanya” ruh”, makanya
bernafaslah dia. Dengan dihembuskan nafas pada sekumpulan tulang dan daging
itu, berubahlah sifatnya. Itulah calon yang akan menjadi manusia. (Dudung
Abdullah ; 1994 :3).
Dalam surat al-Hijr ayat 28-29 dijelaskan bahwa:
Artinya : Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang
manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi
bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan
ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud . (al-hijr(15);28-29).
Tentang ruh (ciptaan-Nya) yang ditiupkan ke dalam rahim wanita yang
mengandung embrio yang terbentuk dari saripati (zat) tanah itu, hanya sedikit
pengetahuan manusia, sedikitnya juga keterangan tentang makhluk ghaib itu
diberikan tuhan dalam. Al-quran. “Dan (ingatlah), ketika tuhanmu berfirman
kepada para malaikat, “sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari
tenah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka
tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (al-hajr(15);28-29). Yang
dimaksud”dengan bersujud” dalam ayat ini bukanlah menyembah, tetapi memberi
penghormatan.
Alquran tidak member penjelasan tentang sifat ruh. Tidak pula ada larangan
di dalam al-quran intuk menyelidiki ruh yang gaib, sebab penyelikikan tentang
ruh, mungkin berguna, mungkin pula tidak berguna, dalam hubungan dengan masalah
ruh ini tuhan berfirman dalam surat al-isra:85
Artinya : Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu
termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan
sedikit” (Q.S. Al-Isra:85).
Ayat-ayat diatas menunjukan bahwa manusia tumbuh dan berkembang mengikuti
tahapan tertentu. Jika analisis, al-quran dan hadits secara umum membagi
kehidupan manusia pertumbuhan dan perkebangan di dunia menjadi dua katagori
besar, kelahiran dan pasca kelahiran. Al-quran juga menyatakan, sebagimana
petikan (Q.S Al-hajj 5) bahwa periode perkelahiran telah ditentukan (biasanya 9
bulan dalam keadaan normal). Namun Al-quran juga menyebutkan bahwa ada
kasus-kasus pengecualian dimana periode prakelahiran dihentikan, sebelum atau
setelah waktu yang normal.
3. Persamaan dan perbedaan manusia dengan makluk
lain
Manusia tidak berbeda dengan binatang dalam kaitan dengan fugsi tubuh dan
fisiologisnya. Fungsi kebinatangan di temukan oleh naluri, pola-pola tingkah
laku yang khas, yang pada gilirannya ditentukan oleh struktur susunan syaraf
bawaan. Semakin tinggi tingkat perkembangan binatang, semakin fleksibel pola
tindakannya. Pada primata (bangsa monyet) yang lebih tinggi dapat di temukan
intelegensi, yaitu penggunaan pikiran guna mencapai tujuan yang diinginkan,
sehinnag memungkinkan binatang melampaui pola kelakuan yang telah di gariskan
secara naluri. Namun setinggi-tingginya perkembangan binatang, elemen-elemen
dasar ekstensinya yang tertentu masih tetap sama.
Manusia pada hakikatnya sama saja dengan makhluk hidup lainnya, yaitu
memiliki hasrat dan tujuan. Ia berjuang untuk meraih tujuannya dengan di dukung
oleh pengetahuan dan kesadaran. Perbedaan di antara keduanya terletak pada
dimensi pengtahuan, kesadaran, dan tingkat tujuan. Di sinilah letak kelebihan
dan keunggulan yang di banding dengan makhluk lain.
Manusia sebagai salah satu makhluk yang hidup di muka bumi merupakan
makhluk yang memiliki karakter yang paling unik. Manusia secara fisik tidak
begitu berbeda dengan binatang, sehingga para pemikir menyamakan dengan
binatang. Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk yang
lain adalah dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia
saja yang memilikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan
yang bersifat instinctif.
Di banding makhluk lainnya, manusia mempunyai kelebihan. Kelebihan itu
membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Kelebihan menusia adalah kemampuan
untuk bergerak di darat, di laut maupun di udara. Sedan binatang hanya mampu
bergerak di ruang yang terbatas. Walaupun ada binatang yang dapat hidup di
darat dan di air, namun tetap saja mempunyai kterbatasan dan tidak bisa
melampaui manusia. Di samping itu manusia memiliki akal dan hati sehingga dapat
memahami ilmu yang diturunkan Allah, berupa al-Quran. Dengan ilmu manusia mampu
berbudaya. Allah menciptakan manusia dalam keadaan sebaik-baiknya. Oleh karena
itu ilmunya manusia di lebihkan dari makhluk lainnya. Manusia memiliki karakter
yang khas, bahkan di bandingkan makhluk lain yang paling mirip sekalipun.
Kekhasan inilah yang menurut al-Quran menyebabkan adanya konsekuensi
kemanusiaan di antaranya kesadaran, tanggung jawab, dan pembalasan. Diantara
karakteristik manusia adalah:
- Aspek kreasi
Apapun yang ada pada tubuh manusia sudah di rakit dalam suatu tatanan yang
terbaik dan sempurna. Hal ini bisa di bandingkan dengan makhluk lain dalam
aspek penciptaannya. Mungkin banyak kesamaannya, tetapi tangan manusia lebih
fungsional dari tangan sinpanse, demikian pula organ-organ lainnya.
2. Aspek ilmu Hanya
manusia yang punya kesempatan memahami lebih jauh hakekat alam semesta di
sekelilingnya. Pengatahuan hewan hanya berbatas pasa naluri dasar yang tidak
bisa di kembangkan melalui pendidikan dan pengajaran. Manusia menciptakan
kebudayaan dan peradaban yang terus berkembang.
3. Aspek kehendak Manusia
memiliki kehendak yang menyebabkan bisa mengadakan pilihan dalam hidup. Makhluk
lain hidup dalam suatu pola yang telah baku dan tak akan pernah berubah. Para
malaikat yang mulia tak akan pernah menjadi makhluk yang sombong atau maksiat.
4. Tujuan penciptaan manusia
Tujuan penciptaan manusia adalah untuk penyembahan Allah. Pengertian
penyembahan kepada Allah tidak boleh diartikan secara sempit, dengan hanya
membayangkan aspek ritual yang tercermin salam solat saja. Penyembahan berarti ketundukan
manusia pada hukum Allah dalam menjalankan kehidupan di muka bumi, baik ibadah
ritual yang menyangkut hubungan vertical (manusia dengan Tuhan) maupun ibadah
sosial yang menyangkut horizontal ( manusia dengan alam semesta dan manusia).
Penyembahan manusia pada Allah lebih mencerminkan kebutuhan manusia
terhadap terwujudnya sebuah kehidupan dengan tatanan yang adil dan baik. Oleh
karena itu penyembahan harus dilakukan secara sukarela, karena Allah tidak
membutuhkan sedikitpun pada manusia termasuk pada ritual-ritual penyembahannya.
Dalam hal ini Allah berfirman:
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka
menyambah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan aku tidak
menghendaki supaya mereka member aku makan. Sesungguhnya Allah, Dialah
maha pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (az-Zaariyaat,
51:56-58).
Dan mereka telah di perintahkan kecuali supaya mereka menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus dan
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan degnan dekimikian
itulah agama yang lurus. (Bayinnah, 98:5)
Penyembahan yang sempurna dari seseorang manusia akan menjadikan
dirinya sebagai khalifah Allah di muka bumi dalam mengelola kehidupan alam
semesta. Keseimbangan alam dapat terjaga dengan hukum-hukum alam yang kokoh.
Keseimbangan pada kehidupan manusia tidak sekedar akan menghancurkan
bagian-bagian alam semesta yang lain, inilah tujuan penciptaan manusia di
tengah-tengah alam.
5. Fungsi dan peranan manusia dalam islam
Berpedoman kepada QS Al Baqoroh 30-36, maka peran yang dilakukan adalah
sebagai pelaku ajaran Allah dan sekaligus pelopor dalam membudayakan ajaran
Allah. Untuk menjadi pelaku ajaran Allah, apalagi menjadi pelopor pembudayaan
ajaran Allah, seseorang dituntut memulai
dari diri dan keluarganya, baru setelah itu kepada orang lain.
Di dalam Al Qur’an disebutkan fungsi dan peranan yang diberikan Allah
kepada manusia.
• Menjadi abdi Allah. Secara sederhana hal ini berarti hanya bersedia mengabdi kepada Allah dan tidak mau mengabdi kepada selain Allah termasuk tidak mengabdi kepada nafsu dan syahwat. Yang dimaksud dengan abdi adalah makhluk yang mau melaksanakan apapun perintah Allah meski terdapat resiko besar di dalam perintah Allah. Abdi juga tidak akan pernah membangkang terhadap Allah. Hal ini tercantum dalam QS Az Dzariyat : 56“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”
• Menjadi saksi Allah. Sebelum lahir ke dunia ini, manusia bersaksi kepada Allah bahwa hanya Dialah Tuhannya.Yang demikian dilakukan agar mereka tidak ingkar di hari akhir nanti. Sehingga manusia sesuai fitrahnya adalah beriman kepada Allah tapi orang tuanya yang menjadikan manusia sebagai Nasrani atau beragama selain Islam. Hal ini tercantum dalam QS Al A’raf : 172
• “Dan (ingatlah), keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan Kami),kami menjadi saksi”.(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(keesaan Tuhan)”
• Khalifah Allah sebenarnya adalah perwakilan Allah untuk berbuat sesuai dengan misi yang telah ditentukan Allah sebelum manusia dilahirkan yaitu untuk memakmurkan bumi. Khalifah yang dimaksud Allah bukanlah suatu jabatan sebagai Raja atau Presiden tetapi yang dimaksud sebagai kholifah di sini adalah seorang pemimpin Islam yang mampu memakmurkan alam dengan syariah-syariah yang telah diajarkan Rosulullah kepada umat manusia. Dan manusia yang beriman sejatilah yang mampu memikul tanggung jawab ini. Karena kholifah adalah wali Allah yang mempusakai dunia ini.
• Menjadi abdi Allah. Secara sederhana hal ini berarti hanya bersedia mengabdi kepada Allah dan tidak mau mengabdi kepada selain Allah termasuk tidak mengabdi kepada nafsu dan syahwat. Yang dimaksud dengan abdi adalah makhluk yang mau melaksanakan apapun perintah Allah meski terdapat resiko besar di dalam perintah Allah. Abdi juga tidak akan pernah membangkang terhadap Allah. Hal ini tercantum dalam QS Az Dzariyat : 56“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”
• Menjadi saksi Allah. Sebelum lahir ke dunia ini, manusia bersaksi kepada Allah bahwa hanya Dialah Tuhannya.Yang demikian dilakukan agar mereka tidak ingkar di hari akhir nanti. Sehingga manusia sesuai fitrahnya adalah beriman kepada Allah tapi orang tuanya yang menjadikan manusia sebagai Nasrani atau beragama selain Islam. Hal ini tercantum dalam QS Al A’raf : 172
• “Dan (ingatlah), keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):”Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab:”Betul (Engkau Tuhan Kami),kami menjadi saksi”.(Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini(keesaan Tuhan)”
• Khalifah Allah sebenarnya adalah perwakilan Allah untuk berbuat sesuai dengan misi yang telah ditentukan Allah sebelum manusia dilahirkan yaitu untuk memakmurkan bumi. Khalifah yang dimaksud Allah bukanlah suatu jabatan sebagai Raja atau Presiden tetapi yang dimaksud sebagai kholifah di sini adalah seorang pemimpin Islam yang mampu memakmurkan alam dengan syariah-syariah yang telah diajarkan Rosulullah kepada umat manusia. Dan manusia yang beriman sejatilah yang mampu memikul tanggung jawab ini. Karena kholifah adalah wali Allah yang mempusakai dunia ini.
6 Tanggung jawab manusia sebagai
Hamba Allah
Kewajiban
manusia kepada khaliknya adalah bagian dari rangkaian hak dan kewajiban manusia
dalam hidupnya sebagai suatu wujud dan yang maujud. Didalam hidupnya manusia
tidak lepas dari adanya hubungan dan ketergantungan. Adanya hubungan ini
menyebabkan adanya hak dan kewajiban. Hubungan manusia dengan allah adalah
hubungan makhluk dengan khaliknya. Dalam masalah ketergantungan, hidup manusia
selalu mempunyai ketergantungan kepada yang lain. Dan tumpuan serta
ketergantungan adalah ketergantungan kepada yang maha kuasa, yang maha perkasa,
yang maha bijaksana, yang maha sempurna, ialah allah rabbul’alamin, Allah Tuhan
yang Maha Esa.
Kebahagian manusia di dunia dan akhirat, tergantung kepada izin dan ridho
allah. Dan untuk itu Allah memberikan ketentuan-ketentuan agar manusia dapat
mencapainya. Maka untuk mencapainya kebahagian dunia dan akhirat itu dengan
sendirinya kita harus mengikuti ketentuan-ketentuan dari allah SWT. Apa yang
telah kita terima dari allah SWT. Sungguh ak dapat dihitung dan tak dapat
dinilai dengan materi banyaknya. Dan kalau kita mau menghitung-hitung nikmat
dari Allah, kita tidak dapat menghitungnya, karena terlalu amat sangat
banyaknya. Secara moral manusiawi manusia mempunyai kewajiban Allah sebagai
khaliknya, yang telah memberi kenikmatan yang tak terhitung jumlahnya.
Orang yang demikian ini mempunyai hak untuk tidak disiksa oleh Allah,
bahkan akan diberi pahala dengan pahala yang berlipat ganda, dengan sepuluh
kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat bahkan dengan ganda yang tak terduga
banyaknya oleh manusia. Dalam al-quran kewajiban ini diformulasikan dengan :
a. Kepada sesama manusia : dengan memberikan harta yang juga senang
terhadap harta itu, kepada kerabatnya kepada anak-anak yatim kepada orang-orang
miskin kepada musafir yang membutuhkan pertolongan (ibnu sabil)
b. Kepada Allah : menegakan / mendirikan shalat, menunaikan zakat
c. Kepada diri sendiri : menempati janji apabila ia berjanji, sabar delam
kesempitan, penderitaan dan peperangan.
Kesemuanya itu adalah dalam rangka ibadah kepada allah memenuhi manusia
terhadap khalik.
3.1 KESIMPULAN Berdasarkan
berbagai aspek yang telah kami bahas, maka kami dapat menyimpulkan bahwa
hakekat manusia dalam pandangan islam yaitu sebagai khalifah di bumi ini. Yang
mampu merubah bumi ini kearah yang lebih baik. Hal yang menjadikan manusia
sebagai khalifah adalah karena manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki
makhluk lainnya, seperti akal dan perasaan. Selain itu manusia diciptakan Allah
dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna.
THANK YOU
Tidak ada komentar:
Posting Komentar